Biografi Dahlan Iskan

Posted by Zul Rianto On Minggu, 23 Oktober 2011 0 komentar

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), dalam bukunya Ganti Hati ada cerita menarik tentang tanggal kelahiranya, Dahlan Iskan menuturkan bahwa tanggal tersebut dikarang sendiri oleh pak Dahlan karena pada waktu itu tidak ada catatan kapan dilahirkan dan orang tuanya juga tidak ingat tanggal kelahirannya. Dan kenapa pak Dahlan memilih tanggal 17 Agustus, karena bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia dan supaya mudah diingat.

Dahlan kecil dibesarkan dilingkungan pedesaan dangan serba kekurangan, akan tetapi sangat kental akan suasana religiusnya. Ada cerita menarik yang saya baca pada buku beliau Ganti Hati yang menggambarkan betapa serba kekurangannya beliau ketika waktu kecil. Disitu diceritakan Dahlan kecil hanya memiliki satu celana pendek dan satu baju, tapi masih memiliki satu sarung!. Dan dengan joke-joke pak Dahlan yang segar beliau menceritakan kehebatan dari sarung yang dimiliki. Disini beliau menceritakan bahwa sarung bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan sampai menjadi alat untuk menakut-nakuti.

Kalau Dahlan kecil lagi mencuci baju, sarung bisa dikemulkan pada badan atasnya. Kalau lagi mencuci celana, sarung bisa dijadikan bawahan. Kalau lagi cari sisa-sisa panen kedelai sawah orang kaya, sarung itu bisa dijadikan karung. Kalau perut lagi lapar dan dirumah tidak ada makanan, sarung bisa diikatkan erat-erat dipinggang jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau mau sholat jadilah dia benda yang penting unutk menghadap Tuhan. Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau sarung itu sobek masih bisa dijahit. Kalau ditempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalanya pun robek, sarung itu belum tentu akan pensiun. Masih bisa dirobek-robek lagi, bagian yang besar bisa digunakan sebagai sarung bantal dan bagian yang kecil bisa dijadikan popok bayi. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita beliau, bahwa apapun kondisi kita, baik kurang, cukup atau lebih kita harus tetap bersyukur, sabar dan harus menikmati semuanya dengan apa adanya.



Dahlan Iskan Bersama Jawa POS

Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin dan Belanda. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.
Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia pada tahun 2000.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. [3][1] Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Dan Pada Tanggal 19 Oktober 2011 Beliau dilantik menjadi Menteri BUMN.

Berita Untuk Pelantikan Dahlan Iskan.

Jakarta (ANTARA News) - Sepintas tidak ada yang berbeda dalam acara pelantikan menteri di Istana Negara, Rabu pagi. Semua tampak seragam. Para menteri yang dilantik dan mantan menteri serempak mengenakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL).

PSL berarti celana berbahan halus, kemeja bewarna terang, dasi jas berwarna serasi dengan celana. Semuanya baru lengkap jika mengenakan kaos kaki dan sepatu kulit mengkilap.

Hanya satu orang di antara mereka yang sedikit nyeleneh. Dia berdiri di deretan belakang barisan menteri. Dia adalah Dahlan Iskan.

Mantan wartawan yang didaulat menjadi Menteri BUMN itu mengenakan sepatu olah raga atau sepatu kets, bukan sepatu kulit untuk keperluan resmi.

Sepatu yang dia pakai memang bewarna hitam legam. Namun hal itu tidak bisa menyamarkan nuansa kasual yang muncul.

Dahlan mengakui memilih sepatu bewarna hitam untuk menyesuaikan diri dengan suasana resmi selama pelantikan menteri. "Tapi kan sepatunya tetap kets," katanya lalu tersenyum lebar.

Pria yang berulang tahun setiap 17 Agustus ini bertekad tidak akan mengubah gaya dalam berpakaian, meski telah menjadi menteri. "Nggak berubah saya. Nggak berubah. Sudah terlalu lama seperti itu," katanya.

Dia tidak khawatir ditegur Presiden karena kebiasaannya itu. Menurut dia, Presiden bisa memaklumi hal-hal tertentu.

"Kemarin saja pas menghadap Presiden, saya pakai sepatu kets, cuma warnanya hitam," katanya dengan tenang.

Dahlan Iskan sebenarnya menolak tawaran Presiden untuk menjadi Menteri BUMN. Dia telah berencana untuk mengabdi sebagai Dirut PLN selama tiga tahun.

Namun, akhirnya pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, itu menyanggupi tantangan sebagai seorang menteri. Jejak awal yang akan ditapakinya adalah membuat para pejabat BUMN terbiasa bekerja, bukan hanya rapat.

"Terlalu banyak rapat, itu harus dikurangi 50 persen," katanya.

Menurut Dahlan, pejabat BUMN terlalu sering mengikuti rapat, baik rapat internal BUMN maupun rapat di Kementerian BUMN. Pengurangan rapat akan membuat pejabat BUMN lebih fokus kepada pekerjaan yang membuahkan hasil.

"Supaya BUMN lebih sibuk bekerja, daripada mengurus surat, laporan, dan rapat," katanya.

Dahlan mengatakan, BUMN akan diberi keleluasaan untuk melakukan aksi korporasi. Kementerian BUMN akan mendorong dan memfasilitasi setiap aksi korporasi tersebut.

"Kementerian BUMN tidak akan menjadikan mereka instansi di bawah (Kementerian-red) BUMN, tapi korporasi di bawah (Kementerian-red) BUMN," katanya.

Usai pelantikan, Dahlan Dahlan melangkah keluar meninggalkan Istana Negara sambil menjawab pertanyaan wartawan.

Dia melepas jas yang dikenakan selama pelantikan. Dasi juga dilepas, kemudian diletakkan di bahu sebelah kirinya.

Beberapa saat kemudian, sejumlah wartawan sadar bahwa Dahlan berjalan menuju arah yang berlawanan dengan menteri yang lain.

Para menteri tersebut berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman komplek istana, sedangkan Dahlan berjalan ke luar istana. Mobil Mercedes-Benz S 500 bernomor polisi L 1 JP miliknya diparkir di halaman Sekretariat Negara, terpisah dari mobil para koleganya.

"Gak apa-apa. Toh jalan juga dekat," katanya ketika ditanya alasan memilih parkir di luar.

Dahlan tidak segera pergi setelah sampai di mobil. Dia menunggu wakilnya, Mahmudin yang juga baru saja dilantik. Dahlan berniat mengajak Mahmudin pulang bersama, sekalian membicarakan nasib kementerian yang mereka pimpin.

Mahmudin dan istrinya kemudian menghampiri Dahlan. Berkumpul lima orang di situ, yaitu Dahlan bersama istri, Mahmudin dan istrinya, serta sopir Dahlan yang sudah siap di belakang kemudi.

Alhasil, Dahlan pun bingung, bagaimana caranya mengangkut lima orang sekaligus di dalam satu mobil.

Tanpa banyak pertimbangan, dia segera menghampiri sopir yang duduk di bangku depan. Dia perintahkan orang itu untuk keluar. "Biar saya yang nyetir," katanya.

Dia kemudian masuk mobil, diikuti Mahmudin yang memilih duduk di sebelahnya. Para istri duduk di bangku belakang.

Tanpa berlama-lama, mereka meninggalkan tempat parkir Sekretariat Negara.

Source : Antara

0 komentar:

Posting Komentar